Berikut adalah dua cara bagaimana Anda bisa bertransaksi menggunakan QRIS. Dapatkan segera QR Code untuk menunjang transaksi digital bisnis Anda secara gratis melalui Xendit.
Category:
Artikel
Virtual Account (VA) adalah nomor rekening khusus yang unik untuk satu tagihan atau satu pelanggan. VA ini ibarat “rekening sementara” yang dibuat khusus untuk satu tagihan Anda. Jadi, begitu Anda bayar, tagihan langsung terkonfirmasi otomatis.
Untuk di BRI, ada tiga cara untuk membayar VA, yakni melalui aplikasi BRImo, ATM BRI, dan dari Bank Lain. Kita akan menggunakan contoh tagihan dari EPOCHSTREAM dibawah ini, dan berikut adalah informasi penting dari tagihan Anda:
- Nomor Virtual Account: 13282274032069224
- Nama Akun VA: EPOCHSTREAM
- Jumlah Bayar: IDR 50.000
- Batas Waktu: Sebelum 27 Oktober 2025, 10:58

*****
Artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah cara transfer uang melalui BRI Virtual Account menggunakan melalui aplikasi BRImo, dan ATM BRI dengan merujuk langsung pada contoh tagihan EPOCHSTREAM yang tersedia di atas.
*****
Cara 1: Lewat Aplikasi BRImo
Ini adalah cara paling cepat dan disarankan jika Anda punya rekening Bank BRI. Berikut langkah-langkahnya:
- Masuk ke BRImo: Buka dan Login ke aplikasi BRImo Anda.
- Pilih Menu BRIVA: Di halaman utama, cari dan sentuh menu “BRIVA”.
- Masukkan Nomor: Pilih “Tambah Transaksi Baru”.
- Masukkan seluruh Nomor Virtual Account Anda: Contohnya: 13282274032069224
- Lanjut: Sentuh “Lanjut” atau “Kirim”.
- Cek & Konfirmasi: Layar akan menampilkan detail tagihan.
- Pastikan: Nama yang muncul adalah EPOCHSTREAM atau nama penyedia jasanya.
- Jumlahnya IDR 50.000 (Rp 50 ribu).
- Bayar: Klik “Bayar” dan masukkan PIN BRImo Anda.
- Selesai! Simpan bukti pembayaran sebagai kuitansi.
Cara 2: Lewat ATM BRI
Jika Anda berada di mesin ATM Bank BRI. Berikut langkah-langkahnya:
- Masukkan Kartu & PIN ATM BRI Anda.
- Pilih menu “Transaksi Lain”.
- Pilih “Pembayaran”.
- Pilih “Lainnya” > “BRIVA”.
- Masukkan Nomor BRIVA: Ketik seluruh Nomor Virtual Account Anda: Contohnya: 13282274032069224.
- Layar akan menampilkan tagihan (Nama EPOCHSTREAM dan Jumlah Rp 50.000).
- Pilih “YA” untuk melanjutkan pembayaran.
- Ambil struk Anda sebagai kuitansi.
Catatan Penting!
- Jumlah Uang Harus Tepat: Karena tagihan ini sudah pasti (Rp 50.000), Anda WAJIB transfer tepat Rp 50.000.
- Waktu Kadaluarsa: Bayar sebelum jam 10:58 pada tanggal 27 Oktober 2025 agar tagihan Anda tidak hangus.
- Cek Nama: Selalu pastikan nama di layar konfirmasi adalah EPOCHSTREAM sebelum Anda memasukkan PIN.
Virtual Account (VA) adalah nomor rekening khusus yang unik untuk satu tagihan atau satu pelanggan. VA ini ibarat “rekening sementara” yang dibuat khusus untuk satu tagihan Anda. Jadi, begitu Anda bayar, tagihan langsung terkonfirmasi otomatis.
Untuk di Bank Mandiri, ada dua cara utama yang paling sering digunakan, yakni lewat aplikasi Livin’ by Mandiri dan ATM. Kita akan menggunakan contoh tagihan dari EPOCHSTREAM dibawah ini, dan berikut adalah informasi penting dari tagihan Anda:
- Nomor Virtual Account: 8890829452438657811
- Nama Akun VA: EPOCHSTREAM
- Jumlah Bayar: IDR 50.000
- Batas Waktu: Sebelum 27 Oktober 2025, 10:58

*****
Artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah cara transfer uang melalui Mandiri Virtual Account menggunakan aplikasi Livin’ by Mandiri dan ATM, dengan merujuk langsung pada contoh tagihan EPOCHSTREAM yang tersedia di atas.
*****
Cara 1: Lewat Aplikasi Livin’ by Mandiri
Ini adalah cara paling cepat dan disarankan, karena bisa dilakukan dari mana saja. Berikut langkah-langkahnya:
- Buka & Masuk: Buka aplikasi Livin’ by Mandiri Anda.
- Pilih Menu Bayar: Cari dan sentuh menu “Bayar” atau “Bayar & Beli”.
- Masuk ke VA: Pilih opsi “Multipayment” (atau “Virtual Account”).
- Cari Penerima: Pada kolom pencarian, masukkan Kode Biller yang ada di awal Nomor VA Anda, yaitu 88908. (Kode ini milik Xendit, yang dipakai EPOCHSTREAM).
- Masukkan Nomor VA: Ketik seluruh Nomor Virtual Account Anda: Contohnya: 8890829452438657811
- Cek & Konfirmasi: Layar akan menampilkan detail tagihan. Pastikan: Nama di layar adalah EPOCHSTREAM (atau nama yang mirip) dan Jumlahnya IDR 50.000.
- Selesaikan: Lanjutkan pembayaran dan masukkan MPIN (sandi transaksi Livin’) Anda.
- Selesai! Simpan bukti transaksi (screenshot) sebagai kuitansi.
Cara 2: Lewat ATM Bank Mandiri
Jika Anda sedang berada dekat mesin ATM Mandiri. Berikut langkah-langkahnya:
- Masukkan Kartu & PIN ATM Mandiri Anda.
- Pilih menu “Bayar/Beli”.
- Pilih menu “Multi Payment” (atau “Lainnya” > “Multi Payment”).
- Masukkan Kode Perusahaan: Ketik kode 88908. Tekan “Benar”.
- Masukkan Nomor VA: Ketik seluruh Nomor Virtual Account: 8890829452438657811, lalu Tekan “Benar”.
- Cek & Konfirmasi: Layar akan menampilkan nama (EPOCHSTREAM) dan jumlah (Rp 50.000).
- Bayar: Pilih tagihan tersebut dan tekan “Ya” untuk memproses pembayaran.
- Ambil kartu dan struk Anda sebagai kuitansi.
Catatan Penting!
- JANGAN Salah Jumlah: Karena tagihan ini sudah pasti (Rp 50.000), Anda WAJIB transfer tepat Rp 50.000.
- Waktu Kadaluarsa: Bayar sebelum tanggal dan jam yang tertera pada tagihan (contoh: sebelum 27 Oktober 2025, 10:58).
Dalam Ekonomi Kreatif Digital 5.0, kesalahan terbesar yang masih sering terjadi adalah menerapkan model bisnis ekonomi konvensional yang hanya berfokus pada penjualan produk dan jasa, tanpa memahami bahwa nilai utama dalam ekonomi kreatif digital ada pada kekayaan intelektual (KI).
Di era digital, pendekatan bisnis yang sekadar berbasis produksi (barang dan jasa) dan transaksi (langsung) tidak lagi relevan. Bagaimana aset Kekayaan Intelektual (KI) dapat dimonetisasi secara berkelanjutan, melalui lisensi, royalti, dan pemanfaatan teknologi digital?
Artikel ini akan membahas:
- Kesalahan umum dalam menerapkan model bisnis konvensional dalam ekonomi kreatif digital.
- Bagaimana Kolaborasi, Inovasi, dan Adaptasi menjadi kunci sukses di era Ekonomi Kreatif Digital 5.0.
- Strategi monetisasi kekayaan intelektual dalam berbagai sektor kreatif, termasuk kuliner, kerajinan, fesyen, desain, dan seni.
- Metode perhitungan nilai tambah KI, PDB berbasis pendapatan, penciptaan lapangan kerja, dan investasi dalam ekonomi kreatif digital
Dengan memahami perubahan mindset ini, pelaku ekonomi kreatif dapat menghindari kesalahan bisnis ekonomi konvensional dengan memaksimalkan potensi digitalisasi dan monetisasi aset KI untuk pertumbuhan yang berkelanjutan.
Kesalahan dalam Menerapkan Model Bisnis Ekonomi Konvensional dalam Ekonomi Kreatif Digital
Banyak pelaku industri kreatif masih menggunakan pendekatan bisnis ekonomi konvensional yang berfokus pada penjualan produk dan jasa kreatif secara langsung, tanpa memerhatikan monetisasi aset digital dan kekayaan intelektual. Kesalahan utama yang sering terjadi antara lain:
Menjual Produk Fisik, Bukan Aset Digital
Contoh: Seorang seniman hanya menjual lukisan fisik, padahal ia bisa memonetisasi karyanya melalui NFT atau lisensi digital.
Mengabaikan Kekayaan Intelektual (KI)
Contoh: Desainer fesyen membuat karya tanpa mendaftarkan hak cipta atau mereknya, sehingga mudah ditiru oleh kompetitor.
Tidak Mengoptimalkan Monetisasi Digital
Contoh: Musisi hanya mengandalkan konser fisik, padahal bisa menghasilkan pendapatan dari streaming, royalti, dan AI-generated music.
Fokus pada Penjualan Sekali Pakai, Bukan Lisensi Jangka Panjang
Contoh: Seorang arsitek menjual desain rumah sekali pakai, padahal bisa memonetisasi desainnya melalui lisensi untuk penggunaan massal.
Solusinya? Kolaborasi, Inovasi, dan Adaptasi menjadi kunci utama dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis KI.
Perhitungan Ekonomi Kreatif Digital Berbasis KI
Untuk memahami dampak ekonomi kreatif digital berbasis KI, kita harus mengukur nilai tambah KI, PDB berbasis pendapatan, penciptaan lapangan kerja, dan investasi dalam sektor kreatif digital.
1. Nilai Tambah dari Kekayaan Intelektual (KI)
Nilai tambah KI dihitung dari pendapatan yang dihasilkan dari aset intelektual, seperti royalti, lisensi, dan monetisasi digital.
Rumus:
Nilai Tambah KI = Pendapatan KI – Biaya Produksi & Distribusi Digital
Contoh Perhitungan:
Seorang desainer menjual template desain digital:
Pendapatan lisensi desain: Rp 500 juta/ tahun
Biaya produksi digital (software, pemasaran): Rp 50 juta/tahun
Biaya distribusi digital (platform fee, pajak): ,Rp 100 juta/ tahun*
Nilai Tambah KI = 500 – (50 + 100) = Rp 350 juta
2. PDB Berdasarkan Pendapatan (Bukan Pengeluaran)
PDB dalam ekonomi kreatif dihitung dari komponen pendapatan produksi KI, bukan dari pengeluaran konsumsi.
Rumus:
PDB Pendapatan = Upah Tenaga Kerja + Pendapatan KI + Keuntungan Perusahaan + Pajak Tidak Langsung – Subsidi
Contoh Perhitungan:
Industri game digital menghasilkan:
Pendapatan lisensi & in-app purchase: Rp 1 triliun
Upah pegawai & tenaga kreatif: Rp 400 miliar
Keuntungan perusahaan: Rp 300 miliar
Pajak tidak langsung: Rp 100 miliar
Subsidi pemerintah: Rp 50 miliar
PDB Pendapatan = 400 + 1.000 + 300 + 100 – 50 = Rp 1,75 triliun
3. Penciptaan Lapangan Kerja Berbasis KI
Lapangan kerja di ekonomi kreatif digital meliputi:
- Pekerja Langsung (seniman digital, musisi, pengembang)
- Pekerja Tidak Langsung (marketing digital, legal, platform manager)
- Pekerja Terkait (edukasi, periklanan, investasi startup)
Rumus:
Total Lapangan Kerja = Pekerja Langsung + Pekerja Tidak Langsung + Pekerja Terkait
Contoh Perhitungan:
Sektor fashion digital & NFT di Indonesia:
Pekerja Langsung: 50.000 orang
Pekerja Tidak Langsung: 30.000 orang
Pekerja Terkait: 20.000 orang
Total Lapangan Kerja = 50.000 + 30.000 + 20.000 = 100.000 orang
4. Investasi dalam Ekonomi Kreatif Digital
Investasi dalam ekonomi kreatif digital mencakup:
- Aset digital (NFT, AI-generated content, Metaverse fashion)
- Startup kreatif (game studio, marketplace desain, platform streaming)
- Infrastruktur digital (cloud computing, blockchain)
Rumus:
Total Investasi = Investasi Swasta + Investasi Pemerintah + Investasi Asing
Contoh Perhitungan:
Sektor game digital & e-sports:
Investasi swasta: Rp 3 triliun
Investasi pemerintah: Rp 2 triliun
Investasi asing: Rp 5 triliun
Total Investasi = 3 + 2 + 5 = Rp 10 triliun
Kesimpulan
Dalam Ekonomi Kreatif Digital 5.0, cara mengukur ekonomi tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan produksi fisik, tetapi harus beralih ke monetisasi aset kekayaan intelektual (KI).
- Nilai Tambah KI = Pendapatan dari hak cipta, lisensi, dan royalti dikurangi biaya digital.
- PDB Pendapatan = Berasal dari upah tenaga kerja kreatif, pendapatan KI, dan keuntungan perusahaan.
- Lapangan Kerja = Meliputi pekerja langsung, tidak langsung, dan terkait di sektor berbasis KI.
- Investasi = Berfokus pada aset digital, startup kreatif, dan infrastruktur digital.
Dengan memahami perhitungan ini, kita dapat mengembangkan kebijakan dan strategi yang lebih tepat untuk mendorong ekonomi kreatif berbasis KI sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Industri kreatif memainkan peran penting dalam ekonomi global dengan kontribusi signifikan terhadap PDB, penciptaan lapangan kerja, dan pelestarian budaya. Namun, di tengah tantangan perubahan iklim, kelangkaan sumber daya, dan isu sosial, banyak pelaku industri kreatif mulai mengadopsi model bisnis yang berkelanjutan. Model bisnis ini tidak hanya mengejar keuntungan finansial, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan.
Artikel ini akan membahas konsep, prinsip, dan contoh model bisnis industri kreatif yang berkelanjutan untuk memberikan wawasan kepada pelaku industri dan pemangku kepentingan.
Apa Itu Model Bisnis yang Berkelanjutan?
Model bisnis yang berkelanjutan adalah pendekatan bisnis yang dirancang untuk menciptakan nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan. Dalam industri kreatif, model ini mencakup:
- Penggunaan Sumber Daya Ramah Lingkungan: Meminimalkan limbah dan menggunakan bahan yang dapat didaur ulang.
- Inovasi Sosial: Menciptakan produk dan layanan yang memberikan manfaat sosial, seperti meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
- Pemberdayaan Komunitas Lokal: Melibatkan masyarakat dalam rantai produksi dan menciptakan peluang kerja.
- Ekonomi Sirkular: Mengadopsi pendekatan daur ulang dan penggunaan kembali untuk mengurangi dampak lingkungan.
Prinsip Dasar Model Bisnis Berkelanjutan
- Triple Bottom Line (TBL): Mengutamakan keseimbangan antara profit (keuntungan), people (manusia), dan planet (lingkungan).
- Transparansi dan Etika: Mengutamakan proses produksi yang transparan dan etis.
- Inovasi Berbasis Teknologi: Memanfaatkan teknologi untuk efisiensi dan dampak positif, seperti platform digital untuk distribusi.
- Kolaborasi dan Kemitraan: Bekerja sama dengan komunitas, pemerintah, dan organisasi non-profit.
Model Bisnis dalam Industri Kreatif yang Berkelanjutan
Model Ekonomi Sirkular
Mengadopsi prinsip daur ulang dan penggunaan ulang bahan untuk produk kreatif.
Contoh:
- Ecoalf (Spanyol): Membuat pakaian dari bahan daur ulang, seperti plastik laut.
- Pentatonic (Jerman): Menggunakan limbah industri untuk menciptakan furnitur inovatif.
Model Pendanaan Crowdfunding
Menggalang dana dari komunitas untuk mendukung proyek kreatif yang berkelanjutan.
Contoh:
- Kickstarter: Banyak proyek seni, film, dan desain dengan fokus lingkungan yang didanai melalui platform ini.
Produksi Lokal dan Berbasis Komunitas
Menggunakan bahan lokal dan melibatkan tenaga kerja dari komunitas sekitar.
Contoh:
- Tenun Ikat Sumba (Indonesia): Produk tekstil tradisional yang melibatkan komunitas lokal dalam produksi.
Model Digital dan Platform Berlangganan
Mengurangi limbah fisik dengan mengalihkan produk kreatif ke digital.
Contoh:
- Spotify: Mengurangi konsumsi CD fisik dengan menyediakan musik secara digital.
Model Kolaborasi dan Edukasi
Menyediakan platform kolaboratif untuk edukasi dan pelatihan keterampilan.
Contoh:
- Adobe Creative Cloud: Selain menyediakan alat kreatif, Adobe juga mendukung komunitas kreatif dengan pelatihan dan materi edukasi.
Contoh Sukses Model Bisnis Kreatif yang Berkelanjutan
Patagonia
- Industri: Fashion dan pakaian outdoor.
- Strategi Berkelanjutan: Patagonia menggunakan bahan ramah lingkungan dan mendorong pelanggan untuk memperbaiki produk mereka daripada membeli yang baru.
- Dampak: Meningkatkan kesadaran konsumen tentang konsumsi berkelanjutan.
Studio Ghibli Museum (Jepang)
- Industri: Seni dan hiburan.
- Strategi Berkelanjutan: Museum didesain ramah lingkungan, menggunakan material lokal, dan mempromosikan nilai budaya.
Batik Fractal (Indonesia)
- Industri: Fashion dan tekstil.
- Strategi Berkelanjutan: Menggabungkan teknologi dengan tradisi pembuatan batik untuk menghasilkan desain digital yang inovatif, mengurangi limbah, dan memberdayakan pengrajin lokal.
Tantangan dalam Menerapkan Model Berkelanjutan
- Biaya Awal yang Tinggi: Produksi ramah lingkungan sering membutuhkan investasi awal yang besar.
- Kurangnya Kesadaran Konsumen: Tidak semua konsumen memahami pentingnya produk berkelanjutan.
- Kompleksitas Rantai Pasok: Mengelola rantai pasok berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Model bisnis industri kreatif yang berkelanjutan adalah solusi masa depan yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial. Pelaku industri kreatif dapat memanfaatkan teknologi, memberdayakan komunitas lokal, dan mengadopsi ekonomi sirkular untuk mencapai tujuan ini.
Rekomendasi:
- Edukasi konsumen tentang pentingnya keberlanjutan.
- Bangun kolaborasi dengan pihak terkait, seperti pemerintah, NGO, dan komunitas.
- Gunakan platform digital untuk memperluas pasar dan mengurangi dampak lingkungan.
Pelajaran yang dapat dipetik:
Dengan mengadopsi model bisnis berkelanjutan, industri kreatif dapat terus berkembang tanpa merusak ekosistem dan nilai sosial di sekitarnya.
Di tengah arus perubahan yang makin cepat—dari disrupsi teknologi hingga krisis global—tiga kata kunci ini sering muncul dalam berbagai diskusi strategi: kolaborasi, inovasi, dan adaptasi. Namun, pertanyaan mendasar sering terlontar: mana yang didahulukan?
Jawabannya tidak tunggal, tetapi bergantung pada konteks dan tujuan organisasi. Meskipun demikian, berbagai contoh sukses di dunia menunjukkan pola-pola umum yang dapat dijadikan pegangan.
1. Adaptasi → Kolaborasi → Inovasi: Strategi Bertahan Saat Krisis
Ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020, banyak sektor lumpuh. Namun, sejumlah perusahaan mampu beradaptasi dengan cepat, berkolaborasi lintas fungsi, lalu melahirkan inovasi baru.
Contohnya adalah Gojek Indonesia. Dalam waktu singkat, Gojek:
> Mengubah prioritas layanan dari transportasi ke pengantaran barang dan makanan (adaptasi).
> Membangun kemitraan dengan pemerintah dan rumah sakit untuk layanan GoMed (kolaborasi).
> Meluncurkan fitur “Check-in COVID-19” dan dompet digital untuk donasi publik (inovasi).
Kecepatan adaptasi menjadi kunci pertama. “Krisis mempercepat perubahan perilaku. Siapa yang cepat beradaptasi, dialah yang bertahan,” ujar Kevin Aluwi, Co-CEO Gojek (sumber: Katadata, 2020).
2. Kolaborasi → Adaptasi → Inovasi: Membangun Budaya Jangka Panjang
Contoh lain datang dari ekosistem riset Jepang. Pemerintah Jepang membangun jaringan kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah sejak tahun 1980-an. Budaya kolaborasi ini mempermudah lembaga-lembaga riset untuk beradaptasi terhadap tren global seperti AI dan robotika, dan kemudian melahirkan inovasi-inovasi teknologi yang mendunia.
Contohnya, proyek Society 5.0 yang diluncurkan 2016 menekankan sinergi sektor publik–swasta dalam menciptakan masyarakat cerdas berbasis teknologi. Hasilnya, Jepang kini menjadi salah satu negara dengan tingkat kesiapan digital dan inovasi tertinggi di dunia [World Economic Forum, 2022].
3. Inovasi → Kolaborasi → Adaptasi: Strategi Startup
Bagi startup, sering kali justru inovasi yang menjadi pemicu awal. Contohnya Airbnb, yang bermula dari ide sederhana menyewakan kasur udara (air bed) kepada tamu. Inovasi ini kemudian dikembangkan melalui kolaborasi dengan investor dan komunitas host di seluruh dunia.
Seiring pertumbuhan, Airbnb harus beradaptasi dengan regulasi lokal di banyak negara, termasuk menyesuaikan model bisnisnya agar sesuai hukum dan budaya setempat. Strategi “inovasi dulu, adaptasi kemudian” ini cocok untuk organisasi yang ingin bereksperimen cepat dengan ide baru [sumber: Harvard Business Review, 2014].
Tidak Ada Satu Urutan Pasti
Tiga pola di atas menunjukkan bahwa Kolaborasi–Inovasi–Adaptasi bisa fleksibel, bergantung pada:
Tujuan: bertahan, tumbuh, atau mencipta.
Konteks: krisis, stabil, atau fase eksperimen.
Kapabilitas organisasi: apakah budaya kolaborasi sudah terbentuk, atau inovasi menjadi kekuatan utama.
Namun, ada satu benang merah: *tidak ada inovasi yang berkelanjutan tanpa adaptasi dan kolaborasi. Inovasi yang berdiri sendiri tanpa jejaring dan penyesuaian terhadap realitas lapangan seringkali gagal berkembang.
Pelajaran Praktis untuk Organisasi
Bangun budaya kolaboratif sejak awal, agar respons terhadap perubahan lebih cepat dan fleksibel.
Jadikan adaptasi sebagai refleks organisasi*, bukan reaksi sesaat.
Dorong inovasi terarah, bukan sekadar ide “Wow” yang tidak bisa dijalankan.
Sesuaikan langkah sesuai situasi: krisis → adaptasi dulu; jangka panjang → kolaborasi dulu; fase ide kreatif → inovasi dulu.
Penutup
Di era yang ditandai oleh ketidakpastian dan percepatan perubahan, organisasi—baik bisnis, komunitas, maupun pemerintahan—perlu piawai memainkan tiga instrumen ini: Kolaborasi, Inovasi, dan Adaptasi.
Bukan siapa yang paling kuat atau paling pintar yang bertahan, melainkan siapa yang paling mampu beradaptasi dan berkolaborasi untuk melahirkan inovasi yang relevan.
Sumber
- Katadata (2020). “Strategi Gojek Bertahan di Tengah Pandemi.”
- World Economic Forum (2022). Global Competitiveness Report.
- Harvard Business Review (2014). “How Airbnb Found Its Place in the World.”
- Kementerian Pendidikan dan Riset Jepang (2018). Society 5.0 Policy Outline.
